Bagikan Juga!!

Dukungan Emosional Dan Psikologik Pada Pasien Dan Walinya


Dukungan Emosional Dan Psikologik Pada Pasien Dan Walinya
Dukungan Emosional Dan Psikologik Pada Pasien Dan Walinya

Dukungan Emosional Dan Psikologik Pada Pasien Dan Walinya -  Keadaan gawat darurat seringkali sangat mencemaskan pasien dan keluarganya dan dapat memicu berbagai gangguan emosi dan segala akibatnya.

Reaksi Emosional Dan Psikologik Pasien Dan Walinya

Bagaimana pasien dan anggota keluarganya bereaksi terhadap keadaan gawat darurat bergantung pada hal-hal berikut : 
  • Status perkawinan dan hubungan pasien tersebut dengan pasangannya.
  • Keadaan sosial pasien dan pasangannya, budaya, agama, keyakinan, dan harapan mereka.
  • Kepribadian mereka , kualitas dan sifat dukungan sosial, dan emosional mereka.
  • Sifat, berat dan prognosis masalahnya, serta jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan yang ada.
Reaksi  umum pada kegawatan atau kematian adalah sebagai berikut : 
  • Menyangkal, menolak, tidak percaya, perasaan: " itu pasti tidak benar " .
  • Rasa bersalah, kemungkinan merasa sebagai tanggung jawabnya.
  • Marah , sering kali ditujukan kepada para tenaga kesehatan , hal itu serung kali dilakukan untuk menutupi kemarahan pada dirinya sendiri dan pada kegagalannya . 
  • Menawar, terutama antara kondisi pasien antara hidup dan mati.
  • Depresi dan kehilangan harga diri, hal ini dapat berlangsung lama.
  • Menyendiri, perasaannya menjadi berbeda atau terpisah dari yang lain yang dapat diperparah karena para tenaga kesehatan yang selalu menghindarinya.
  • Disorientasi.

Prinsip Dasar Dukungan Emosional

Sebenarnya setiap kegawatdaruratan merupakan hal yang unik, mempunyai kekhususan , tetapi terdapat prinsip dasar komunikasi dan dukungan emosional yang dapat dijadikan pedoman. Komunikasi yang baik serta empati yang tulus merupakan kunci penting untuk menangani keadaan semacam itu.

Pada Saat Kejadian : 
  • Dengarkan keluhan mereka yang sedang mengalami musibah . Pasien atau keluarganya perlu mengeluarkan isi hatinya tentang penderitaan dan kesedihannya.
  • Jangan mengalihkan dan mengubah pokok pembahasan ke pokok pembahasan yang lebih ringan dan kurang menyakitkan. Tunjukkan adanya empati.
  • Katakan kepada pasien dan  keluarganya sejelas mungkin tentang apa yang terjadi.Bila pasien atau keluarganya memahami situasi dan perwatannya, hal tersebut dapat mengurangi kecemasan mereka dan menyiapkan mereka terhadap  segala kemungkinan akan apa yang terjadi kemudian.
  • Berkata dan bertindaklah secara jujur. Jangan ragu-ragu mengakui apa yang anda tidak ketahui. Mempertahankan kepercayaan lebih penting daripada seolah-olah tahu segalanya.
  • Bila terdapat hambatan bahasa , gunakan  penerjemah.
  • Jangan menyerahkan masalah tersebut terhadap perawat atau staf klinik yang lebih muda.
  • Pastikan bahwa pasien tersebut ditemani oleh seseorang yang dipilihnya , dan bila mungkin tenaga kesehatan yang sama selama proses persalinannya.
  • Bila mungkin usahakanlah agar pendamping turut berperan aktif dalam perawatan.
  • Selama kejadian ataupun setelahnya , sediakan sebanyak mungkin privasi pada pasien dan keluarganya.
Setelah Kejadian : 
  • Berikan bantuan untuk melakukan kegiatannya, berikan informasi yang cukup dan dukungan emosional.
  • Hormati keyakinan dan budaya tradisionalnya, sedapat mungkin berilah waktu secukupnya untuk kepentingan keluarga,
  • Lakukan konseling terhadap pasien atau keluarganya dan biarkan melakukan refleksi terhadap kejadian tersebut.
  • Jelaskan masalahnya untuk membantu mengurangi rasa khawatir dan rasa berdosa. Banyak pasien atau keluarganya menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi.
  • Dengarkan dan tunjukkan pemahaman dan penerimaan apa yang dirasakan oleh pasien tersebut. Komunikasi non verbal dapat berbicara lebih jelas .
  • Ulangi informasi beberapa kali atau bila mungkin dengan informasi tertulis . Mereka yang sedang mengalami gawat darurat tidak akan dapat mengingat banyak tentang apa yang dikatakan pada mereka.
  • Tenaga kesehatan yang bersangkutan mungkin mempunyai rasa marah, rasa bersalah, sedih, sakit, dan frustrasi menghadapi kegawatdaruratan , sehingga cenderung menghindari pasien atau keluarganya. Tunjukkan bahwa rasa emosi bukan merupakan kelemahan.
Perlu mengingat juga staf klinik yang lain juga pernah mengalami sendiri rasa bersalah, sedih, bingung, dan emosi-emosi lainnya.




 
Top