Bagikan Juga!!

Apa yang membuat kota Fakfak ini begitu special ?
Dari nama, memang…. Sangat unik dan berani..
Seperti apa Fakfak itu?
Kabupaten FakFak berada dibagian selatan dari propinsi Papua Barat. 45 menit waktu yang dibutuhkan dari Sorong ke Fakfak. Tiket sudah ditangan, datang terlalu tepat waktu, bawa carriel 45 liter, tanpa bagasi, berarti langsung masuk ke pesawat merah putih, dan.. Duduk manis! Tampak dari atas awan putih, langit biru muda, daratan hijau dibingkai pasir putih, dan laut degradasi terqua- biru tua. Dengan langkah panjang, 3 petualang ACI langsung berpose disekitar papan “Bandar Udara Torea Fakfak”, hmm… Pada lupa ya itu matahari sangat terik, wouuu jam 12 teng!. bagasi sudah datang, waktunya mencari mobil sewaan. Memang tarif Indonesia bagian timur rata-rata cukup mahal, setelah terjadi tawar menawar, akhirnya 100 ribu perjam. Kita belum tahu akan menginap dimana, sambil mencari tempat ,driver Ibons sekaligus tourguide lokal bercerita baru ini ada cerita putri duyung terdampar di Tomage. Menarik sekali tapi sulit tuk dipercaya, akhirnya si Ibons memamerkan hasil rekamandari handphone merahnya dan dengan lantang, whem…ehem… Aku bluetooth ya… Boleh… Boleh….! Hehehehe, mau lihat?
“Kokas Mini Hotel” menjadi pilihan ketiga kita. Ada dua tipe kamar, kipas angin 125 ribu dan AC 165 ribu. Lumayan nyaman dan bersih , AC nya pun cukup dingin. Pemandangan sejuk kota Fakfak terlihat jelas dari balkon panjang pinggir hotel, tapi ada sedikit yang mengganggu, seketika terhenti mataku pada satu arah, pembangunan dermaga besar di tepi pantai kota, debu berterbangan saat truk bolak balik mengambil pasir. Terlintas pertanyaan di benakku, akankah hilang kemurnian kota Fakfak ini demi pembangunan senderan kapal ini?. Sejujurnya, saya sangat suka akan tata kota Fakfak, mudah-mudahkan, bisa dipertahankan dan dikembangkan.
Jam 14.00, perut seperti lonceng yang berdenting.. Dengan 100 ribu untuk 5 orang, warteg terenak di dekat hotel membuat kita makan selahap-lahapnya. Sambil menunggu teman selesai makan, terpotret di kameraku, segerombolan anak sma seragam hijau putih menggoda teman perempuannya untuk pulang bersama. Aku tertawa dalam hati melihat momen ini, teringat zaman SMP, gerak gerik seperti itu kulewati juga.
Objek wisata pertama adalah air terjun Maredred. Jiwa bertualang dimulai, antusias dan penasaran terlihat dari cerewetnya kita. Stop..! ditengah perjalanan yang sudah 1 jam, ada warga setempat sedang asyik membuat kole kole(* kata lain dari sampan panjang) memberitahukan bahwa sedang ada pelebaran jalan, sehingga sementara ditutup. Bisa saja ke air terjun tersebut, dengan jalan kaki plus menginap di hutan hanya butuh 2 hari. Ya ampun,. Tidak mungkin lah, okey,.. Mari kita lanjut ke tujuan selanjutnya..
Pantai pasir putih, menjadi unik ketika kebebasan tersorot dari kegembiraan anak papua yang sedang bermain pantai dan berlarian diantara buah pala yang sedang dijemur. Terlebih lagi, antusias tinggi mengajak kita melihat ular diantara tumpukan batu yang berlapis. Team Papua Baratku, Riri dan Dadang tidak ada hentinya menganggu mereka dengan menyuruh bergaya genit didepan kamera. Letih sudah, saya mau duduk.. Tapi kata ayah, harus bayar 20 ribu per orang untuk bisa berteduh duduk dibangku santai. Hahaha…alhasil, duduk dipasir saja ah…
Perjalanan ini memang menyenangkan ketika keceriaan kita bagi bersama. Menjadi lebih berarti, melewati pengalaman tak terduga datang.
Nikmatilah perbedaan di dunia..
 
Top