Bagikan Juga!!


(Sebuah Hasil Refleksi Selama Praktek Pengalaman Lapangan Di Kampung Adora-Fakfak)

Kehidupan manusia memang tidak selamanya selalu berjalan mulus nan indah, pasti ada saja suka dan duka yang silih-berganti mewarnai setiap aktivitas nya. Namun, tiap fenomena hidup manusia merupakan sebuah refleksi yang selalu hidup dan senantiasa mengilhami setiap inzan, asalkan dengan jujur kita mau belajar serta membuka diri terhadapnya maka kita akan dengan mudah memahaminya. Fenomena itupun memiliki spirit dan sarat dengan sejumlah pertanyaan yang harus dikaji secara komprehensif. Akan tetapi hal yang patut di ingat adalah seberapa besar kita mampu bertahan dalam setiap gelombang duka yang menghantam kita, serta seberapa besar pula kebahagiaan yang akan terpancar dari setiap suka yang kita temui dan alami.
Refleksi hidup setiap manusia memang sangatlah berbeda, namun jika refleksi ini dipahami dengan sungguh oleh setiap manusia maka tentunya akan memberikan sumbangan nilai-nilai moral serta filosofi yang tinggi terhadap orang lain.

Catatan dalam tulisan ini pun merupakan sebuah refleksi pribadi penulis serta perpaduan pengamatan dan imajinasi dari diri penulis.Penulis mengamati rutinitas dan aktivitas hidup setiap pribadi-pribadi dalam perjumpaannya dengan penulis selama masa Praktek Pengenalan Lapangan di Kampung Adora Distrik Teluk Patipi Kabupaten Fakfak. Tiga bulan memang waktu yang terbilang singkat dan tentunya ada banyak mozaik pengalaman yang belum dapat diangkat dalam tulisan ini, akan tetapi dedikasi dan niat hati untuk merefleksikan sebagian kecil dari puzle mozaik kehidupan ini, memaksakan penulis untuk menuliskan bahan ini. Akhirnya semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca. 


- MENGENAL KAMPUNG ADORA 


Kampung Adora secara administratif berada di kawasan Distrik Teluk Patipi Kabupaten Fakfak dengan luas Wilayah + ...... Km2. Kampung ini secara geografis letaknya sebagai berikut: sebelah utara berbatasan dengan kampung mawar, sebelah selatan berbatasan dengan kampung Us, sebelah barat berbatasan dengan Laut, dan sebelah Timurnya berbatasan dengan kampung Degen. Adapun kampung ini berpenduduk mayoritas adalah suku Mbaham-Matta, dengan mempergunakan bahasa lokal yakni bahasa Iha sebagai bahasa pengantar nomor dua di samping bahasa Indonesia yang merupakan bahasa pengantar utama. Karena sesuai dengan isi Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, yang berbunyi “Kami Putra Dan Putri Indonesia Mengaku Berbahasa Yang Satu Yaitu Bahasa Indonesia”.
Secara Antropologis penduduk Adora merupakan ras Negroid-Malenesia dengan ciri-ciri fisik yakni: berambut keriting (Ikal) dan berkulit hitam. Adapun mata pencaharian penduduk lokal adora yaitu bertani atau berkebun dan berburu serta nelayan. Namun tak dapat dipungkiri bahwa ada sebagian masyarakat lokal yang kemudian diakomodir dalam sistem birokrasi sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Sebagai masyarakat petani alias perkebunan, usaha penanaman hasil-hasil perkebunan menjadi suatu aspek prioritas masyarakat seperti menanam Pala, Ubi-ubian, dan sayur-mayur. Dari semua hasil usaha penanaman masyarakat tersebut sebagian dimanfaatkan sebagai konsumsi keluarga dan sebagiannya lagi dipasarkan untuk menambah ekonomi keluarga. Selain itu yang terlihat dari potret hidup penduduk lokal Adora adalah sistem usaha penanaman hasil perkebunan mereka masih bersifat natural-tradisional dalam arti segala usaha pertanian mereka cenderung masih mengadalkan alam serta belum mempergunakan tekhnologi pertanian yang maju dan inovatif. Misalnya dalam proses pengolahan tanah perkebunan mereka masih menggunakan tenaga manusia sebagai pengganti mesin produksi-pengolahan, sehingga hasil pertanian pun terbilang masih terbatas secara kwantitasnya.
Sejalan dengan prinsip kerja tersebut tentunya jika ditelisik secara bijak dapat memunculkan pertanyaan-pertanyaan dasariahseperti “mengapa para penduduktak berpikir menjadikan perkebunan sebagai sebuah omset industri yang mega dengan marketing yang terbilang high”. Pertanyaan dasariah ini membutuhkan kajian filosofi yang elegan dan santun, akan tetapi masalah tersebut bukanlah menjadi sorotan dalam tulisan ini, mengingat background penulis bukanlah seorang ekonom yang handal dan kapable. Tetapi sorotan utama dalam penulisan ini adalah penulisingin lebih memfokuskan diri pada praktek-praktek kehidupan masyarakat lokal yang memiliki hubungan erat dengan nilai-nilai sosial-teologi yang dianut oleh masyarakat. Nilai-nilai panutan tersebut memiliki kekuatan untuk mengajarkan pekerti kepada semua orang baik masyarakat lokal maupun masyarakat pendatang tanpa mengenal status sosial, baik tingkat pendidikannya, agamanya, serta pekerjaan mereka. Yang dituntut dari pelajaran pekerti dimaksud hanyalah sebuah sikap tulus dan rela agar mau belajar dan menerima.
Pemahaman nilai-nilai dasar ini sesungguhnya mendeskripsikan kepada kita agar janganlah secara egoistik mengklaim bahwa hal-hal yang kita jumpai merupakan sebuah simbol-simbol dan slogan tanpa arti. Atau secara sadar kita memunculkan sebuah sikap arogansi sempit karena menganggap bahwa praktek-praktek tersebut merupakan hal yang usang dan tidak perlu dipelajari lagi. Fakta inilah yang hendak diangkat demi memberikan sebuah sumbangan bagi kaum pembaca dalam memahami konteks nilai kearifan lokal. 


- MEHAK DAN MAHI-TUNI SEBAGAI MEDIA PEMERSATU IKATAN KEKELUARGAAN 


Setiap masyarakat yang hidup dan bertumbuh dalam peradaban masyarakat Mbaham-Matta seperti Masyarakat Adora pasti mengetahui dan kenal dekat dengan istilah atau kata yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita yaitu “Mehak dan Mahi-Tuni”. Kedua kata ini jika diartikan dalam bahasa Indonesia memiliki pengertian “kopi dan rokok”. Tentunya pertanyaan yang akan muncul dari terjemahan kedua kata tersebut yaitu apa kekuatan dibalik kopi dan rokok sehingga menjadi centrum utama bagi masyarakat Mbaham-Matta khususnya masyarakat Adora?. Jika diamati aktivitas keseharian masyarakat Adora, maka akan dijumpai bahwa ternyata nilai kekuatan pemersatu dan ikatan kekeluargaan serta perekat hubungan keakraban nampak melalui Mehak dan Mahi-Tuni ketikadisuguhkan. Baik dalam pertemuan-pertemuan resmi yang telah terjadwalkan maupun dalam pertemuan-pertemuan biasa tanpa jadwal.
Mehak dan Mahi-Tuni laksana dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan dan diabaikan, sebab ketika Mehak disuguhkan maka tidak akan sempurna tanpa kehadiran Mahi-Tuni. Biasanya para tetamu ataupun sanak keluarga yang berkunjung ke rumah,maka tuan rumah [para wanita] kemudian sibuk merebus air panas di tungku untuk membuat mehak. Sementara kaum lelaki akan duduk bersila di ruang tamu dengan beralaskan tikar anyaman dari daun pandan hutan sembari berdiskusi dan bercerita dengan bahasa Iha yang dikombinasikan dengan bahasa Indonesia. Yang menarik dalam setiap segment cerita tangan mereka akan responsif dan peka untuk mengambil daun pandoki/mahi yang terletak di dalam “nahahara” untuk dilipat-lipit setelah itu mereka akan mengupas ruas-ruas tulang daun yang berfungsi kala menaruh tembakau di atas daun pandoki tersebutsambil menikmati Mahi-Tuni. Tidak berselang beberapa menit kemudian seorang wanita akan mengantarkan Mehak dengan menggunakan baki atau nampan. Mehak ini pun di isi dalam gelas aluminium dengan takaran saji hanya setengah gelas.
Potret menarik lainnya pula adalah dari cara meminum mehak ini, meskipun hanya setengah gelas saja, tetapi mereka meminumnya dengan perlahan-lahan alias mengicipnya sedikit demi sedikit dengan jeda waktu kurang lebih sekitar 1jamlalu mehak tersebut bisa habis diminum.Selain itu Masyarakat Adora yakin bahwa Mehak merupakan sarana pemersatu serta imperium budaya yang diturun-alihkan oleh para nenek moyang mereka. Sehingga ketika ada masalah-masalah konflik yang terjadi dalam masyarakat tentu diselesaikan dalam bentuk duduk bersama sembari menikmati mehak dan mahi-tuni lalu kemudian dibuatkan perdamaian antara pihak yang berkonflik.
Selain itu dalam upacara-upacara adat seperti: tombor-magh juga mesti disuguhkan mehak dan mahi-tuni untuk para tetamu dan dupiat. Memang jika diamati sepintas maka praktek meminum Mehak dengan cara mengicipnya perlahan-lahan terkesan lambat dan buang-buang waktu, namun esensi kandungan nilai filosofinya yaitu semakin lambat menikmati Mehak tersebut maka sedikit demi sedikit rahasia-rahasia penting akan mulai tersingkap dihadapan kita. Selain itu cara mengkonsumsi Mehak ala Adora ini mengajarkan kepada kita bahwa sebuah nilai kesabaran (tidak gegabah dalam mengambil keputusan) untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi. Karena jika terburu-buru mengkonsumsi Mehak tersebut, side effectnya adalah Jantung kita akan berdebar dan kita akan mengalami insomnia alias susah tidur.
Pelajaran pekerti yang lain yang dapat diperoleh dari tradisi meminum Mehak dan mengisap Mahi-Tuni oleh masyarakat Adora adalah: mereka kemudian sejenak melepaskan seluruh beban mereka, baik beban kerja karena tuntutan ekonomi, maupun sejenak mereka melupakan batas-batas stratifikasi mereka, yang ada hanyalah keakraban yang terjalin di antara satu dengan yang lainnya, sehingga yang akan terlihat adalah canda – tawa dan guratan senyum yang lebar yang terpancar dari setiap wajah mereka. Inilah sesungguhnya letak kekuatan perekathubungan antar pribadi ketika menikmati Mehak dan Mahi-Tuni secara bersama. 


- RUJUKAN ETIKA KRISTEN KEBUDAYAAN 


Belajar dari realitas fenomena masyarakat Adora dalam ruang lingkup budaya lokal maka kita dapat merujuk dari etika Kristen kebudayaan menurut Verkuyl dimana kita dipanggil untuk menghargai setiap kebudayaan. Karena sebagai orang Kristen kita wajib menginsafi, bahwa tujuan dan arti hidup manusia barulah terpenuhi apabila kita menunaikan tugas kebudayaan. Walaupun berjuta-juta orang tidak melihat dan tidak tahu apakah tujuan kebudayaan itu, namun harus dihargai juga, bahwa mereka turut dalam mengusahakan kemungkinan-kemungkinan dalam alam ciptaan ini.
Cinta kepada kebudayaan, penghargaan terhadap kebudayaan, sikap terbuka terhadap kebudayaan adalah penggilan Kristen. Seorang Kristen harus juga menghargai pekerjaan kebudayaan yang diusahakan sesama manusianya yang bukan Kristen. Sebab pekerjaan kebudayaan adalah tanda kemanusiaan yang menunjuk kepada Tuhan, khalik kita. Orang Kristen harus sanggup bersikap sangat positif terhadap segala kebudayaan, karena ia tahu bahwa di sini Tuhan memanggil manusia, dan karena Ia dengan mata bersinar selalu melihat dari hati, bagaimana kebudayaan baru itu menjadi mungkin, kalau manusia dari asal-mulanya berpaut kepada Tuhan.Orang Kristen harus mengetahui juga tentang perlawanan terhadap Tuhan dalam kebudayaan, tetapi ada baiknya untuk menitikberatkan dulu, bahwa orang Kristen pertama-tama dapat mengharagai kebudayaan itu dengan positif dari sudut kepercayaannya kepada kekuasaan dan kesabaran Tuhan.


- PENUTUP


Bercermin dari dinamika hidup dan filosofi yang terkandung dalam masyarakat Fakfak secara khusus masyarakat kampung Adora, maka kita kemudian mendapatkan sebuah rujukan nilai-nilai budaya yang sarat makna dan kaya akan pelajaran moral. Namun yang terpenting dari semua kandungan nilai filosofi itu adalah bahwa kita pun diajarkan untuk tidak serta-merta memandang sebuah kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat lokal sebagai sebuah rutinitas tanpa makna melainkan marilah kita dengan sadar dan peka agar menilai segala sesuatu sebagai wujud kebuadayaan yang sarat pekerti serta mesti dilesatarikan... (Kamrad D)


-SALAM DARI KAMPUNG PESISIR ADORA-
 
Top