Bagikan Juga!!

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk hal ini dibuktikan dengan adanya keberagaman suku, agama dan budaya.Kemajemukan yang dimiliki bangsa ini, merupakan aneka nilai yang harus rawat dan di tata secara bijaksana sehingga tetap bertahan dalam waktu yang panjang.Namun, kemajemukan yang dimiliki oleh bangsa ini pun dapat menimbulkan perpecahan dan kesenjangan sosial seperti konflik antar suku, agama dan ras.

Klaim-klaim kebenaran dalam aspek religiositas dan egoistik suku yang cenderung muncul sering kali mengakibatkan konflikmisalnya: agama “A” dengan doktrin-nya yang extrim mulai melihat agama “B” sebagai agama yang salah dan tidak memperoleh keselamatan, suku “A” yang karena memiliki populasi yang banyak mulai melihat suku “C” sebagai kaum terpingirkan dan tidak memperoleh tempat dalam struktur sosial.
Banyak pengalaman buruk bangsa ini, yang mestinya diperhatikan dan dipelajari sehingga dapat menjadi rujukan nilai-nilai etik moral bangsa demi menjaga keutuhan serta solidaritas bangsa Indonesia. Pengalaman demi pengalaman yang menerpa bangsa ini tidaklah kemudian mengikis  rasa solidaritas dan optimisme kebersamaan karena ada kearifan budaya local yang dapat dijadikan sebagai sentral pembelajaran bagi kita saat ini.

Salah satu kearifan budaya local yang dapat dijadikan rujukan pembelajaran adalah terdapat dalam masyarakat Fakfak (Mbaham) yang terkenal dengan falsafahnya yaitu : “Satu Tungku Tiga Batu”, falsafah ini kerap memberikan penggambaran mengenai “Tiga Agama yang terdapat di Fakfak yaitu : Islam, Kristen Protestan dan Katolik” yang senantiasa hidup berdampingan satu dengan yang lain tanpa ada klaim-klaim egosentris. Selain itu falsafah “Satu Tungku Tiga Batu” juga oleh masyarakat Mbaham diidentikan sebagai tiga pilar utama yakni “Adat, Agama dan Pemerintah”.


·   KONTEKS MASYARAKAT DALAM LINGKUP KEBUDAYAAN
Masyarakat dan Kebudayaan lokal sering dikategorikan tipe masyarakat tradisional yang secara paradigmatis dipandang tak relevan dengan perkembangan masyarakat modern.Walaupun demikian paradigma atau pandangan hidup masyarakat lokal sering dimanfaatkan sebagai instrumen dalam komunikasi sosial dan politik modern.Dalam komunikasi politik praktis, sistem dan struktur serta simbol-simbol adat masyarakat lokal sering dieksploitasi untuk mencapai tujuan dan melindungi kepentingan serta akses kekuasaan. Dalam konteks proses pembelajaran sosial, masyarakat lokal sering diposisikan sebagai obyek yang harus digurui dan dituntun terus. Ada keyakinan bahwa dalam momen-momen historis tertentu dari pengalaman bersama, kita patut memosisikan masyarakat lokal sebagai guru yang bijak bagi kita.Warisan kebudayaan mereka layak menjadi teks-teks yang hidup serta menjadi arah moral etik bersama di mana kita mau secara rendah hati menjadi murid-murid yang arif pula.

Keistimewaan kebudayaan masyarakat lokal Fakfak (Mbaham) patut dikaji dan direnungkan kembali serta direvitalisasikan.Salah satu Falsafah budaya lokal yang layak menjadi teks pembelajaran adalah : “1 Tungku 3 Batu”. Memang sesungguhnya masyarakat Fakfak (Mbaham) tidak gemar berkampanye dalam gaya sloganistik, tetapi mereka senantiasa merawat, menghayati dan mempraktekan falsafah satu tungku tiga batu sebagai sebuah kearifan lokal (local wisdom) dalam menata kehidupan mereka.

Penulis yang lahir dan bertumbuh dalam konteks kebudayaan ini sangat bersyukur karena dapat belajar memahami dan merasakan keadaban budaya tersebut sehingga, lewat tulisan ini penulis ingin memperkenalkan nilai-nilai social – religious yang terkandung dalam falsafah masyarakat lokal Mbaham.

·   Pengertian Masyarakat dan Masyarakat Lokal
Sebelum memahami lebih jauh mengenai keadaban masyarakat Mbahamdengan falsafah hidupnya “1 Tungku 3 Batu”, terlebih dahulu kita harus mengetahui apa pengertian masyarakat dan masyarakat lokal.
Menurut Koentjaraningrat
Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama.
Selo Soemardjan
Masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan.
Paul B. Horton & C. Hunt
Masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok/ kumpulan manusia tersebut.
Ralph Linton
Masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja sama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri sendiri dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas.
Dari sejumlah definisi yang dikemukakan diatas maka secara sederhana penulis dapat menyimpulkan bahwa masyarakat adalah :“Kesatuan kelompok manusia yang hidup bersama secara mandiri dalam suatu wilayah tertentu agar mampu bekerja sama serta menghasilkan kebudayaan”.

Sedangkan pengertian masyarakat lokal/Masyarakat Adat penulis lebih cenderung merujuk dari pengertian yang dikemukakan oleh AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara)pada Kongres I tahun 1999 yang mendefinisikan masyarakat adat sebagai komunitas yang memiliki asal-usul secara turun-temurun yang hidup di wilayah geografis tertentu, serta memiliki sistem nilai, ideologi ekonomi, politik, budaya dan sosial yang khas.

Nilai-nilai budaya yang dimiliki dan senantiasa hidup dalam masyarakat lokal/masyarakat adat kerap jarang di lirik bahkan tidak sama sekali oleh kelompok masyarakat yang datang dan menetap dalam wilayah masyarakat adat, karena mereka mengidentikan diri mereka sebagai masyarakat modern maju dan berkembang. Namun, jika kita peka terhadap nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat adat, maka kita akan menjumpai bahwa peradaban masyarakat ini layak untuk dijadikan sebagai dasar pijakan dalam tatanan hidup sosial.

·   Mengenal Masyarakat Fakfak : 
Masyarakat adat  Fakfak tinggal di Jazirah  Onin, sebuah daerah semenanjung yang berada di sisi selatan wilayah Kepala Burung Pulau Papua.  Daerah Fakfak sendiri  secara administrasi  pemerintahan, adalah salah satu kabupaten di bawah  provinsi Papua Barat. 

Dari sudut pandang antropologis akar kebudayaan masyarakat  asli  Fakfak  termasuk  dalam rumpun  melanesia,  polinesia, dan austronesia. Terdapat dua belas  sub-suku dalam  komunitas masyarakat tradisional Fakfak, yaitu Mbaham  Kmaya, yang dalam pengucapan bahasa melayu biasanya disebut  Baham;  sub-suku yang lain ialah : Iha; Onin; Karas; Uruangnirin; Sekar; Arguni;  Bedowanas; Erokwanas;  Moor; Kemberano; dan Jaghop, namun sayang sekali bahwa sub-suku yang terakhir  ini hampir punah, dewasa ini hanya tinggal beberapa keluarga saja di dusun nelayan Salakity dan Tawor. 
Secara sosiologis, masyarakat  Fakfak sangat  majemuk.  Asimilasi ras dan akulturasi budaya multi etnis di Daerah Fakfak telah terjadi sejak ratusan tahun silam. Orang asli Fakfak telah kawin campur dan menghasilkan keturunan blasteran (darah campuran), antara lain    Fakfak dengan etnis nusantara,  seperti ambon, seram, gorom, ternate, buton, bugis, palembang, juga  ada blasteran Fakfak-arab,dan Fakfak-tionghoa. 

·   KEADAAN GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFIS
Letak Geografis dan Luas Wilayah
Fakfak merupakan salah satu kabupaten yang berada di Pulau Papua tepatnya berada pada wilayah kepala burung bagian bawah.Kabupaten. Fakfak termasuk dalam wilayah Propinsi Papua Barat dan memiliki luas sebesar 14.320 Km2. Dari luas tersebut, Distrik Karas mempunyai wilayah paling luas dibanding distrik lain yaitu sebesar 2.491 Km2 atau 17,40 persen dari luas Kabupaten Fakfak secara keseluruhan. Sedangkan yang paling kecil wilayahnya adalah Distrik Fakfak Tengah yaitu sebesar 705 Km2 atau 4,92 persen dari luas keseluruhan Kabupaten Fakfak.

Secara astronomis Kabupaten Fakfak berada pada posisi 225' hingga 400' Lintang Selatan serta antara 13130' hingga 13340' Bujur Timur. Wilayah Kabupaten Fakfak sebelah utara berbatasan langsung dengan Kabupaten Teluk Bintuni.Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Arafura dan Kabupaten Kaimana.Sebelah Barat berbatasan dengan Laut Seram dan Teluk Berau.Sedangkan sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Kaimana.Pada umumnya masyarakat Kabupaten Fakfak bertempat tinggal di daerah pesisir. Hal ini terlihat dari sekitar 53,60 persen letak kampung/kelurahan berada di pesisir pantai sedangkan 26,40 berada di lereng/punggung bukit dan sisanya berada pada lembah DAS dan dataran.

Jika dilihat dari ketinggian wilayah, sebagian besar wilayah di Kabupaten Fakfak berada di ketinggian antara 0 sampai 100 meter yaitu sebesar 1,19 juta Ha atau sebesar 58,02 persen dari luas keseluruhan Kabupaten Fakfak. Sedangkan paling sedikit wilayah Kabupaten Fakfak yang berada di ketinggian lebih atau sama dengan 1.000 m yaitu sebesar 250,06 ribu Ha atau 12,17 persen. Jika dilihat dari tingkat kemiringan, sebagian besar wilayah di Kabupaten Fakfak memiliki tingkat kemiringan lebih besar dari 40o yaitu sebesar 2,30 juta Ha atau sebesar 60,,63 persen. Sama halnya dengan daerah-daerah lainnya yang ada di Indonesia, Kabupaten Fakfak mempunyai 2 (dua) musim yakni musim hujan dan kemarau.

Rata-rata suhu udara yang tercatat di Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Fakfak pada temperatur normal berada pada kisaran 23,2-30C pada tahun 2010, suhu udara terendah terjadi pada bulan Nopember yaitu sebesar 22,40C dan suhu udara tertinggi terjadi pada bulan Februari yaitu sebesar 31,60C.  Rata-rata Kelembaban Udara pada tahun 2010 sebesar 84,90 persen, kelembaban udara terendah terjadi pada bulan Februari yaitu sebesar 80,50 persen dan kelembaban udara tertinggi terjadi pada bulan Mei yaitu sebesar 88,50 persen. Kecepatan angin yang tercatat di BMKG Fakfak selama tahun 2010 berkisar antara 9-25 knot.Nilai tertinggi terjadi pada bulan Juni yaitu sebesar 25 knot dan nilai terendah terjadi pada bulan Desember yaitu sebesar 9 knot.

Banyaknya hari hujan yang terjadi di Kabupaten Fakfak sebanyak 227 hari atau 62,36 persen dari jumlah hari satu tahun. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, jumlah tersebut menunjukkan angka yang lebih besar yaitu 210 hari hujan pada tahun 2009.Dapat dikatakan bahwa pada tahun 2010 hujan lebih sering terjadi daripada tahun 2009. Jumlah hari hujan terbanyak dalam setiap bulannya terjadi pada bulan Agustus sebanyak 27 hari sedangkan yang paling sedikit terjadi pada bulan Februari yaitu hanya sebanyak 9 hari.

Curah hujan yang terjadi di Kabupaten Fakfak selama tahun 2010 sebanyak 3.530,3 mm. Nilai ini juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun 2009 dengan curah hujan sebesar 3.264,5 mm. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Agustus yaitu sebesar 493,1 mm dan curah hujan terendah terjadi pada bulan Oktober yaitu sebesar 62,4 mm. Tekanan udara rata-rata yang terjadi di Kabupaten Fakfak adalah sebesar 993,35 mbs. Nilai ini lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata tekanan udara tahun sebelumnya yaitu sebesar 993,61 mbs. Dimana tekanan udara terendah terjadi pada bulan Desember yaitu sebesar 990,9 mbs dan tekanan udara tertinggi terjadi pada bulan Februari yaitu sebesar 994,4 mbs. Sedangkan penyinaran matahari yang terjadi di Kabupaten Fakfak berkisar antara 99,0 persen (bulan Agustus) sampai dengan 193,2 persen (bulan Oktober) dengan rata-rata penyinaran matahari sebesar 135,74 persen.

·   Asal Mula dan Arti Nama Fakfak
Sampai dengan saat ini belum dapat dipastikan dari mana asalnya kata Fakfak yang menjadi nama kota maupun Kabupaten Fakfak sekarang, sebab dalam sejumlah naskah sejarah sebelum tahun 1898, nama Fakfak belum pernah disebutkan. Dikatakan demikian karena telah terjadi kesimpangsiuran dalam mencari dan menentukan asal-usul kata “Fakfak” secara etimologis.

Nama-nama yang sering disebut ialah: Onin, Kapaur, dan Kokas. Hal ini disebabkan karena kata Fakfak pada zama itu belum dikenal, disamping nama Fakfak itu sendiri memang mengandung misteri. Ada beberapa pendapat mengenai nama Fakfak. Pendapat pertama mengatakan bahwa kata Fakfak berasal dari kata “Toktok”. Yakni nama seorang laki-laki tuli yang mendiami lembah Raduria, dan Bronkendik dengan Kampung Air Besar (Taswa-Kenantare). “Toktok” dalam bahasa Mbaham berarti pendiam, sabar, dan tuli. Sehingga sang laki-laki itu dijuluki “Toktok” berubah menjadi “Pokpok” dan kemudian berubah lagi menjadi Dulanpokpok.

Sedangkan pendapat kedua, berdasarkan sifat hidrografi kota Fakfak. Sebab dalam bahasa Onin atau Kapaur, Pakpak artinya batu, kering, atau mati. Dalam percakapan sehari-hari masyarakat Onin mengatakan bahwa, di sini Pakpak di sana Kokah. Maksudnya di sini (di Fakfak) daerah berbatu, kering dan mati, sedangkan di sana (di Kokas) daerah berair da nada kehidupan. Pada kenyataannya memang Kokah (Kokas) daerah yang memiliki banyak aliran sungai yang airnya jernih.Jadi Kokah berarti tempat kehidupan. Kata Kokah ini kemudian berkembang menjadi Kokas dan dari situlah berasal nama Kota Kokas sekarang ini.

·  Falsafah dan PraktekSatu Tungku Tiga Batu
Sebelum mengkaji lebih jauh mengenai nilai-nilai social-religios yang terkandung dalam falsafah masyarakat Mbaham maka kita perlu melakukan pendekatan rekonstruksi mengenai pengertian “Tungku”. Menurut KBBI edisi ketiga memberikan tiga arti mengenai Tungku
1.Batu dan sebagainya yang dipasang untuk perapian  (dapur); 2. Tempat tumpuan periuk dan sebagainya waktu memasak; 3. Dapur (perapian) terbuat dari baja dan sebagainya untuk menjerangkan atau memasak sesuatu; batu tungku.

Dari pengertian diatas maka kita memperoleh gambaran bahwa Tungku memiliki peranan yang sangat dominan dalam kehidupan manusia, secara khusus terlihat pada proses pengolahan makanan untuk konsumsi manusia. Tungku ini yang kemudian pada gilirannya dijadikan rujukan falsafah hidup masyarakat lokal Fakfak. Hal ini dikarenakan masyarakat Fakfak yang  nota benenya masyarakat yang pluralistik, dan memiliki keadaban yang tinggi dengan adat istiadat, dan budaya yang khas gaya budaya peralihan.  Pranata dan pratata sosial yang dimiliki masyarakat  Fakfak  juga   terbilang lebih maju, dan  terbuka dibandingkan dengan suku-suku asli Papua lainnya. Solidaritas di dalam kehidupan bermasyarakat di Fakfak  juga sangat tinggi. Tolong-menolong dan saling berbagi adalah gaya hidup orang Fakfak; mereka mempunyai slogan  ”Satu tungku Tiga batu”, dalam bahasa asli ”Toromit War Istery”,  yang mengandung filosofi  ”unity” atau kesatuan, kesehatian, dan saling menopang dalam berkarya.  Dalam konteks pergaulan berbangsa dan bernegara, di Daerah Fakfak; pengertian slogan tersebut kemudian diperluas menjadi  kesatuan gerak, dan  tindakan bersama antara unsur Pemangku Adat, unsur  Agama dan unsur Pemerintah, dalam penatalayanan pembangunan Daerah Fakfak menuju kesejahteraan dan kemakmuran. 

Daerah Fakfak mengenal dan menerapkan sistem Pemerintahan Adat yang disebut    ”Petuanan”. Istilah petuanan ini artinya daerah yang dipertuanoleh seorang raja

yang dalam bahasa asli disebut ”Nady”  atau ”Naty”. Sebuah Petuanan memiliki aparatur (pembantu raja), antara lain : Mayor (wakil raja), Hanggandy (sekretaris raja), Jijay (bendahara raja), Kapitan (kepala pemerintahan kampung dan dusun), dan Rong tua adalah Penasehat raja.   

Sesungguhnya masyarakat asli Fakfak telah menerapkan sistem pemerintahan adat sejak abad permulaan sebelum Semenanjung ini dikunjungi bangsa asing dari Arab dan China pada abad ke 14.  Sistem kerajaan di Fakfak mulai disempunakan dengan struktur yang lebih modern dan lengkap seperti yang diterapkan sekarang, ialah pada tahun 1534, ketika Kesultanan Tidore menjalin hubungan kerja sama  pertahanan keamanan  dan perdagangan dengan wali-wali negeri Semenanjung Onin AL-Mbaham.

Toleransi kehidupan beragama  di Fakfak sangat harmonis.  Mereka memiliki Falsafah yang dikenal dengan istilah ”Agama Keluarga”,  atau dalam bahasa asli ”Mbima Pkon Tery”, kurang lebih pengertiannya adalah ”Tiga tetapi sesungguhnya satu”Mashab ini didasarkan pada pandangan bahwa semua agama adalah mulia, dan sama-sama punya satu saja tujuan yaitu menyembah Allah Yang Maha Esa, Tuhan pencipta alam semesta. Bahwa setiap agama sama mengajarkan kebajikan dan kebaikan yang menuntun kepada hakikat kebenaran Ilahi. 

Di jiwai oleh  pandangan inilah, pada tahun 1500-an,  ketika Agama Islam  mulai disyiarkan di  Jazirah ini,  kemudian disusul oleh misi  Katolik dan Protestan pada tahun  1800-an; maka orang Fakfak menerima ketiga agama tersebut (Islam, Katolik, dan Protestan) sebagai agama-agama  milik  Keluarga Besar Fakfak.  Demikian dipraktekkan hingga sekarang, dimana masyarakat asli Fakfak, ada yang memeluk agama Islam, ada yang nasrani Katolik dan Protestan. Mashab ini ditanamkan dilestarikan dan menjadi suatu  Model sistem Toleransi Beragama yang sangat unik di Daerah ini, yakni toleransi hidup beragama yang dijiwai semangat kekerabatan dan kekeluargaan. Orang Fakfak sangat menjunjung tinggi pelaksanaan syariat smua agama yang ada. Mereka saling membantu dan saling menopang, misalnya dalam pembangunan rumah ibadah, juga dalam peringatan hari-hari besar keagamaan.

·   Hidup Berdampingan Dengan Agama Lain
Hidup berdampingan dengan agama lain bukanlah suatu masalah. Dalam masyarakat Fakfak tidak ada pertentangan mengenai agama, karena mereka ada dalam hubungan kekeluargaan yang sangat erat. Kerukunan antar-umat beragama sangat dijaga.

Hubungan kekerabatan yang sangat erat dalam kehidupan beragama masyarakat suku Mbaham menjadi sangat unik karena adanya agama keluarga ini, dimana dalam satu keluarga ada beberapa agama yang dianut anggota-anggota keluarga tersebut.

Hubungan antara anggota keluarga yang berbeda agama terjalin sangat baik. Berkumpul dan berbicara atau bertukar pikiran tentang agama masing-masing bukan menjadi suatu hal yang baru. Namun tetap saling menghormati dan tidak saling mempengaruhi, karena telah mengerti batas-batas yang telah ditetapkan dan menghargai perbedaan itu. Hal ini sudah menjadi komitmen dalam keluarga dan masyarakat.

Melihat kehidupan yang terjalin indah ini, dampak negatif terlihat ketika perlakuan kepada adat istiadat menjadi lebih penting dari pada agama. Hal ini dapat dilihat ketika ada upacara adat, masyarakat memberikan persembahan  kepada para leluhur setelah upacara usai barulah upacara keagamaan dibuat. Tak dapat disangkal bahwa kepercayaan kepada para leluhur hingga saat ini masih dijaga.[8]

Dalam masyarakat Mbaham agama dan adat berjalan bersama. Kepercayaan kepada para leluhur masih terus dijaga, sehingga ketika ada upacara adat, orang-orang yang dituakan dalam masyarakat memanggil para leluhur untuk bersama-sama merayakan upacara adat yang dilakukan. Walaupun sudah percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kebiasaan atau penghormatan kepada para leluhur tetap dipertahankan.

·     Keterlibatan Dalam Upacara Keagamaan
Gambaran lain yang juga dapat dilihat adalah pada saat pembangunan tempat ibadah, mereka senantiasa saling membantu tanpa memandang backgroun agama. Ketika membangun gereja saudara-saudara dari muslim turut membantu, begitupun sebaliknya ketika membangun masjid, saudara-saudari yang beragama Kristen pasti membantu bahkan ada yang masuk dalam kepanitiaan pembangunan.

Bukan saja keterlibatan dalam upacara keagamaan dan pembangunan tempat ibadah yang menjadi sesuatu yang khas. Di Fakfak perkawinan antar agama pun menjadi sesuatu yang khas: keluarga dan marga digunung (sebagian besar beragama Kristen) memberikan anak atau saudara perempuan mereka untuk dinikahi oleh anak atau saudara laki-laki dari keluarga dan marga di pantai (sebagian besar beragama Islam), dan sebaliknya. Perkawinan demi perkawinan diantara keluarga dan marga tidak hendak ditabukan. Agaknya, lembaga perkawinan lintas agama ini berfungsi sebagai peneguh kohesi sosial kekerabatan mereka.
"By. Kamrad. D"





 
Top