Bagikan Juga!!

Catatan Refleksi :
Pesta Politik Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) Kabupaten Fakfak yang terjadi pada tahun 2015 lalu, menyisahkan luka dan kepiluan hati. Mengapa? Tentunya hal ini akibat adanya sebuah “Konspirasi berkedok Demokrasi yang adil”. Masyarakat Mbaham yang terakomodasi dalam perhelatan akbar hanyalah dijadikan sebagai komoditas masa diam yang tak mampu melawan, pada hal tak terelakan bahwa mereka mengetahui fakta yang dilakukan oleh Kandidat yang berambisi demi memperoleh jabatan, uang, dan popularitas semu. Dibantu oleh actor kapitalisme yang memiliki kekuatan uang, berhasil mempengaruhi para penyelenggara sehingga mereka membisu dan mengesampingkan norma adat dan etika hukum yang menjadi rujukan pelaksanaan perhelatan PILKADA.

Rekayasa demi tujuan memperoleh jabatan dan kedudukan, memberikan kesan buruk terhadap wajah demokrasi yang berlangsung di Negeri Mbaham ini. Rekayasa politik ini pula berimbas pada terkebirinya hak-hak politik para kontestan yang merupakan rival pesaing dalam memperebutkan jabatan (baca: Bupati dan Wakil Bupati). Meneropong pada desaign Kandidat Tunggal: agar tidak terbaca oleh masyarakat sebagai bentuk penguasaan hak politik mereka, maka didoronglah pasangan calon lain yang merupakan orang dekat dan sahabat bisnis serta relasi politiknya. Al-hasil upaya konspirasi politik ini pun membuahkan hasilnya, Kandidat ini pun memperoleh kemenangannya, sang aktor kapitalisme tersenyum dan bersorak kegirangan karena rekayasanya berhasil dan tentunya cita-citanya untuk menarik kantong-kantong Anggaran Daerah akan semakin terwujud.
Namun kebohongan tidak akan pernah menang melawan kejujuran, kejahatan pasti akan kalah melawan kebaikan. Beberapa minggu terakhir ini, mulai terhembus angin kemenangan dan atmosfer kebenaran. KPU sebagai Lembaga penyelenggara ternyata tidak pernah mengeluarkan maklumat 501 yang dijadikan sebagai rujukan untuk menumbangkan rival Politik (DONMA). Ternyata maklumat 501 yang digadang-gadang sebagai pedang maut penentu kemenangan MOCHA-BRAM hanyalah sebuah rekayasa dan kamuflase nihil dari hasil teknologi dan kekuatan Finansial untuk mengkebiri hal rival politik paslon DONMA.

Meskipun kebenarannya mulai terlihat, namun kekuatan hukum dan kewenangannya belum sanggup menyingkapnya, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Fakfak sebagai lembaga representasi rakyat tidak dapat berbuat banyak. Sebagian dari Anggota Dewan yang terhormat telah menggadaikan kewibawaan dan harga diri serta amanahnya pada kekuatan finansial dan kehidupan hedonis (kemewahan), sehingga mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Nilai tawaran Rupiah yang sangat besar mampu membungkam ajaran-ajaran kebenaran yang diketahui serta suara-suara keresahan masyarakat. Pada hal mereka telah memperoleh amanat dari Lembaga Tertinggi Negara untuk melakukan Paripurna dan memutuskan polemik ini. Para anggota dewan yang terhormat terjebak dalam konspirasi politik lantaran kompensasi proyek dan uang milyaran, Ironis dan sangat memprihatinkan keadaan ini.

AMANAT BAGI MASYARAKAT MBAHAM:

Bercermin dari refleksi di atas, maka sebagai masyarakat Mbaham yang tinggal dan bernaung di lereng-lereng bukit, di tebing-tebing batu, di kampung-kampung, dan di perkotaan rapatkan barisan kita guna menyuarakan hak-hak politik kita yang telah dikebiri oleh para elite politik dan aktor kapitalisme. Hentikan segala bentuk kejahatan demokrasi politik di atas Negeri Henggi ini sehingga dapat terwujud masyarakat Mbaham yang adil dan bermartabat yang kaya akan adat istiadat dan budaya.

Suara rakyat adalah suara Tuhan, maka suarakanlah kebenaran dan keadilan, lawan segala bentuk-bentuk ketidak-adilan yang sengaja diciptakan demi tujuan-tujuan individualisme dan kehidupan hedonisme kelompok-kelompok elite yang ingin menguasai hak-hak masyarakat.

Proteksi para wakil kita (Anggota DPRD yang terhormat), sehingga mereka sanggup menyuarakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah sesuai amanat yang diberikan bagi mereka. Selamatkan para wakil kita (Anggota DPRD yang terhormat) dari perangkap kejahatan dan ketidak-mampuan menyuarakan kebenaran.

Hentikan segala bentuk tangisan dan derai air mata masyarakat akibat kekecewaan politik yang dialami masyarakat. Biarkan rakyat menyuarakan aspirasi mereka yang selama ini terbungkam dalam kebisuan akibat sistem yang tidak memberikan ruang bagi mereka.
Marilah Rakyat Negeri Mbaham, tanggal 20 April 2017 menjadi momentum bersejarah bagi kita bersama dalam meletakan dasar peradaban di atas jazirah ini. Suarakan hak kita, suarakan jeritan tangis dan kepiluan hati kita, suarakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah, serta suarakan suara Tuhan demi kejayaan negeri kita.


Salam Dari Anak Negeri Mbaham (Kamrad D). 
 
Top