Bagikan Juga!!



Banyak dari kita yang belum mengetahui tentang peristiwa dibalik penetapan Pandangan Hidup Masyarakat Fakfak “Satu Tungku Tiga Batu”. Namun Bagi sebagian Masyarakat Fakfak jika mengetahui fakta dibalik frasa satu tungku tiga batu maka sudah barang tentu kita tidak akan mau menyebut kalimat ini.
Tentu kita mengetahui dengan jelas peristiwa kelam 17 tahun silam, peristiwa yang dikenal oleh sebagian kalangan sebagai “brong berdarah yang banyak menyisahkan luka dan tangisan pilu terhadap masyarakat. Ternyata Satu Tungku Tiga Batu yang sangat di puja-puja adalah nama operasi gabungan yang dilakukan oleh aparat Militer dan Barisan Merah Putih (BMP) di Brongkendik, Wayati dan Kramomongga Kabupaten Fakfak pada tahun 2000. 

Operasi gabungan “Satu Tungku Tiga Batu” yang dilakukan itu, telah menewaskan 2 warga sipil yaitu Afelinus Crispul yang berasal dari kampung wayati dan Farid Hindom yang berasal dari kampung brongkendik. Operasi Gabungan Militer “Satu Tungku Tiga Batu” ini pula menjadi sebuah cerita terpendam yang tidak pernah diangkat ke permukaan oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab terhadap Operasi Militer “Satu Tungku Tiga Batu” tersebut (Polres Fakfak, Kodim 1705, dan Pemda Kabupaten Fakfak).

Masyarakat selaku korban Operasi Militer “Satu Tungku Tiga Batu” yang mengalami dan merasakan peristiwa tersebutpun sampai saat ini tidak mengetahui nama dari operasi militer yang dilakukan pada tahun 2000. Kejadian yang dialami kala itu, menimbulkan rasa kepiluan dan sakit hingga saat ini. Bahkan tidak dapat terelakan pula munculnya rasa traumatis yang berkepanjangan. Mereka takut menceritakan setiap kejadian demi kejadian yang dirasakan. Buruknya lagi hak mereka sebagai korban kejahatan Militer akibat operasi “Satu Tungku Tiga Batu” waktu itu, terkesan  dibungkamkan oleh pihak-pihak yang terlibat secara masif dan aktif dalam rangka penurun-alihan cerita yang dialami dan dirasakan kepada generasi berikutnya. Yang lebih memprihatinkan serta sangat disesalkan lagi yaitu nama operasi gabungan Militer “Satu Tungku Tiga Batu” ini, kemudian dijadikan sebagai slogan filosofi dasar Agama Keluarga di Kabupaten Fakfak.

“Satu Tungku Tiga Batu” dalam konteks operasi militer saat itu, sebenarnya mengidentikan 3 (Tiga) wilayah yang menjadi target penyerangan  militer dan BMP (Wayati, Brongkendik dan Kramomongga) yang berada dalam 1 (Satu) kesatuan wilayah Kabupaten Fakfak. Dalam operasi gabungan ini banyak memakan korban – baik korban harta benda sampai korban 2 (Dua) nyawa warga sipil –yang berjatuhan. Para militer dengan cara bengis dan biadab melakukan aksi brutal mereka. Menurut penuturan seorang warga masyarakat yang sempat mengalami peristiwa tersebut menjelaskan bahwa kebrutalan dan kebiadaban aparat militer ini diakibatkan oleh kekesalan mereka terhadap masyarakat yang telah lari menyelamatkan diri ke hutan. “Brimob dong tiba di kampung itu orang-orang semua sudah lari masuk hutan, karena tara ada oranglagi di kampung akhirnya dong kasih hancur rumah masyarakat, dong tembak anjing, ayam, kambing yang jalan-jalan di jalan, dong masuk rumah itu karung-karung beras dong tikam dengan sangkur. Yang paling tara baik lagi itu dong sempat masuk ke gereja lalu dong tembak salib yang tagantung di depan altar itu”pungkasya.

Selain itu menurut saksi mata dalam kejadian penembakan warga sipil di wayati menjelaskan bahwa Almarhum Crispul ditembak dibagian dada kiri dan dahi. Setelah tergeletak aparat militer kemudian memotong tubuh almarhum menjadi 2 (dua) bagian dari pinggang. “Brimob dong tembak ade itu pas di dada dan kepala, ade pu kepala balobang lalu brimob satu dia angkat parang yang ada tataruh itu langsung dia ayun di ade pu mayat pas di pinggang sini (sambil menunjuk bagian yang di potong), sembari menundukan kepala dan menangis ”. ungkapnya.
Hampir sebagian besar wilayah Papua merupakan wilayah target operasi militer. Banyak catatan-catatan peristiwa yang sengaja dikuburkan dan tidak terpublikasikan. Bahkan yang lebih ironis dan menyakitkan catatan-catatan ini diplesetin alias diberikan pemaknaan yang berbeda dalam rangka menutup rapat-rapat kejadian yang dilakukan oleh pemerintahan. Dari beberapa catatan mengenai operasi militer yang pernah dilakukan dalam wilayah Papua semuanya memiliki nama yaitu : “Operasi Sadar Matoa, Operasi Baratayuda, Operasi Wibawa, Operasi Pamungkas” serta di wilayah Fakfak dinamakan Operasi “Satu Tungku Tiga Batu”.

Memang tidak banyak dari kita yang mengetahui nama dan makna dibalik operasi “Satu Tungku Tiga Batu” yang dilakukan oleh militer sebelum operasi tersebut dilakukan karena ditakutkan informasi pengoperasian terlanjur dikonsumsi oleh target operasi (masyarakat sipil di 3 wilayah : Wayati, Brongkendik dan Kramomongga) selain itu pula hal ini merupakan rahasia internal militer yang harus disembunyikan dalam dunia kemiliteran ini dikenal dengan istilah kontra-inteligen.Dalam rangka menutupi tindakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang dilakukan oleh para Militer di Fakfak maka nama Operasi “Satu Tungku Tiga Batu” diberikan pemaknaan baru demi menggambarkan toleransi keberagamaan masyarakat Fakfak. *** (Comandante
Sumber : "Facebook"
Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama
 
Top