Bagikan Juga!!


[Fenomena Gerbang Kaca Menggunakan Anggaran Otsus]

“Jadi Anggaran Otonomi Khusus untuk Kampung-kampung saat ini akan langsung di bawah pengawasan SKPD teknis melalui program Gerbang Kaca”.
Kira-kira itulah stagement yang terlontar dari mulut penguasa nomor 1 Kabupaten berlogo Pala ini. namun bagaimana Anggaran Otonomi Khusus yang harus dikelola sendiri oleh masyarakat, mendapatkan intervensi lembut dari Penguasa melalui program Gerbang Kaca?. Rekayasa perampasan uang rakyat melalui program-program pemerintah memang merupakan modus baru para koruptor membungkusi tindakan kejahatan mereka. Fatalnya lagi, seluruh program yang direkayasa ini menciptakan sebuah anti body (kekebalan) terhadap penguasa dalam menggerogoti uang rakyat. Memang Kabupaten Fakfak akhir-akhir ini memiliki salah satu program unggulan yaitu Gerakan Membangun Kampung Bercahaya (Gerbang Kaca) yang katanya bertujuan menjadikan wajah Kampung sepadan dengan Kota. Namun program ini tidak memiliki alokasi penganggaran khusus dan langsung dari APBD, tetapi memanfaatkan Anggaran Otonomi Khusus milik kampung. Dengan cara rolling anggaran otsus untuk pembangunan beberapa kampung menjadi kawasan maju. Tentu saja dari segi presentase materi program sangat memberikan dampak terhadap masyarakat. Tetapi rolling anggaran kampung secara keseluruhan untuk difokuskan pada satu distrik tentu akan memicu salah kelola kebutuhan masyarakat dan perampasan hak-hak masyarakat kampung lainnya yang anggaran kampungnya dimanfaatkan. Bisa jadi kampung lainnya juga membutuhkan anggaran tersebut untuk pemanfaatan kebutuhan lokal mereka.

Pendaulatan program ini seakan memaksakan masyarakat meninggalkan kebiasaan kultur budaya mereka dan berfokus pada strategi dan desain pemerintah melalui program tersebut. Bukankah sebuah program yang dirancangkan harus berbanding lurus dengan kultur budaya dan kebiasaan masyarakat. Jika tidak demikian bagaimana mungkin kita dapat mengukur keberhasilan program tersebut? Saya membayangkan masyarakat yang sehari-hari bermata-pencaharian sebagai Nelayan dipaksakan menggeluti sektor pertanian, sudah pasti butuh alokasi waktu yang lama untuk beradaptasi. Kalaupun dipaksakan tanaman yang dikelolapun produksinya tidak sesuai dengan yang ditargetkan bahkan bisa jadi “kol bertunas bubara, labu siam berbuah bulana”. Aneh-bin ajaib mungkin karena keseringan mendengar lagunya om Broery “buah semangka berdaun siri” sehingga implementasi programpun tidak memperhatikan pola dan kebiasaan hidup masyarakat.

Cerita lainnya yang timbul sebagai akibat langsung dari pemusatan anggaran Otsus adalah terbengkalainya visi-misi dan program kepala Kampung yang telah disusun dan dipersiapkan bersama Masyarakat pasca terpilih dan ditetapkan sebagai kepala Kampung. Ihwal inilah yang disesalkan oleh masyarakat dan pemerintahan Kampung. Yang lebih memprihatinkan dari cerita pemusatan anggaran Otsus dalam rangka mendorong Program Gerbang Kaca, justru para birokrat teknis yang melakukan pendampingan anggaran menjadikan program ini sebagai lahan bisnis terselubung dengan modus pendampingan berkedok Perjalanan Dinas dan Proyek berskala makro.

Cerdas dan kreatif para programmer birokrasi yang merekayasa perampasan hak-hak masyarakat Kampung terhadap Anggaran Otonomi Khusus yang nota benenya adalah kepunyaan mereka. Parahnya lagi Dewan Perwakilan Rakyat yang merupakan penyambung lidah rakyat justru menyetujui program dan penggunaan anggaran rakyat. Entahlah apakah kelompok legislatif kita telah memperoleh kompensasi sebagai akibat melegalkan program ini, (Maaf kata) ataukah para legislator di Negeri ini tidak terlampau cerdas membaca konspirasi desain program Gerbang Kaca.

Harapan Gerakan Membangun Kampung Bercahaya ala Kaka Mocha rupanya sebuah orientasi merampas hak Anggaran Otsus yang bersalut Program penyetaraan Kampung menjadi Kota. Harapan Gerbang Kaca pula ternyata Konspirasi Korupsi Berwajah Malaikat yang beraksi tanpa salah dan dosa. “Salam Konspirasi”.

 
Top